Kamis, 12 Maret 2015

Cerpen: Petualangan Alam Mimpi

Petualangan Alam Mimpi
Oleh : Amira R.

            Kantukku mulai datang. Kubaringkan tubuhku di sofa depan televisi, dengan harap kantuk itu hilang. Hingga tanpa kusadari, jiwaku telah bersiap berpetualang di alam mimpi.
            Kala itu aku berada di antara kerumunan orang yang murung. Tanpa ragu, aku dan yang lainnya langsung menuju tribun yang melingkar di sekitar kami.
“Sepertinya pertunjukkan sudah hampir mulai,” gumamku sambal bergegas ke tribun.
Di hadapanku tampak beberapa sosok berjubah hitam. Mereka terlihat sedang berbincang dan bersiap memulai acara dalam ruang remang-remang itu.
“Tes.. tes.. 1.. 2… Ya, saya disini akan memandu kalian pada petualangan kali ini,” kata salah satu sosok itu, yang bisa dipanggil Nurma.
“… Segeralah kalian menuju tepi sungai di depan tribun kalian. Dan berpegangan eratlah dengan teman di dekatmu jika kamu tidak ingin berpetualang sendirian,” jelasnya di akhir penjelasannya.
Setelah itu, aku dan orang-orang di tribun menuju ke tepi sebuah sungai yang terisi aliran pasir putih. aku, yang takut akan sendirian, secara refleks menggenggam erat tangan dua orang di sebelahku saat itu.
Benar saja, tak lama kemudian, pasir tersebut mulai meluas dan berubah wujud menjadi dataran bumi. Kerumunan orang tadi, kini terpisah di seluruh penjuru. Di dekatku kini hanya ada dua orang tadi, yang ternyata mereka adalah Resti dan Nisah, teman dekatku.
Kami memulai perjalanan bersama. Oh ya, Nurma juga menugaskan kami untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya hingga tiba di pintu akhir petualangan. Di awal perjalanan, kami ditemukan dengan sebuah gulungan kertas yang bertuliskan “Lakukanlah kebaikan, maka poinmu akan bertambah.”
Tak sedikit rintangan mental yang harus kami lewati demi mendapatkan poin. Berbagai jalan setapak berliku dan jalanan bukit yang curam dengan mudahnya kami lewati, tidak seperti di dunia nyata. Perjalanan kami semakin jauh, hingga kami merasa lapar di saat-saat yang tidak memadai, dimana saat kami sedang di tengah danau.
“Aku kayaknya menyerah saja, deh, sudah capek! Kalian lanjut saja, tidak usah memikirkanku,” ucap Resti dengan putus asa kepadaku dan Nisah. Kami berpelukan, dan kemudian Resti melompat dari sampan yang kami naiki.
“Kamu masih mau melanjutkan petualangan ini, ‘kan? Ayo, lah! Temani aku,” mohonku kepada Nisah.
“Iya, deh,” balas Nisah dengan sedikit terpaksa.
Beberapa waktu kemudian, kami dilanda masalah lagi. Kami merasa sangat haus kala itu, karena kami merasa berjalan di atas awan dan jauh dari bumi.
“Mir, kurasa aku harus mengakhiri petualanganku kali ini. Aku merasa sudah tidak kuat lagi,” keluh Nisah.
Yah.. Kamu yakin? Kita ‘kan sudah hampir tiba di akhir petualangan, lho!” bujukku kepada Nisah.
“Iya, memang. Tetapi aku tidak yakin bisa menyelesaikan petualangan ini. Biarkan saja aku menyerah kali ini, kamu lanjutkan saja tujuanmu,” jelas Nisah. Nisah pun akhirnya mengakhiri petualangan ini dengan menaiki kuda Pegasus yang beterbangan di sekitar kami.
Aku juga merasakan hal sama seperti yang dirasakan Resti dan Nisah, bahkan aku merasa ingin pingsan seketika. Namun rasa putus asa ku mulai berkurang, setelah mengetahui bahwa aku hampir tiba di akhir petualangan ini.
Pada akhirnya, aku dapat tiba di akhir perjalanan ini, dan kembali ke tribun dengan selamat, namun tidak dengan teman-temanku. Aku merasakan bahagia yang luar biasa saat mengetahui bahwa aku adalah salah seorang yang dapat dengan cepat menyelesaikan petualangan ini.
Di tribun, aku menjumpai seorang teman dekatku juga, namun bukanlah Resti ataupun Nisah, ia adalah Shabri. Namun disitu, Shabri seperti tidak mengenaliku. Hal ini sedikit mengurangi kebahagiaanku.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar kembali suara Nurma. Nurma tidak muncul sebagai sosok berjubah lagi, melainkan sebagai lelaki muda yang keren.
“Selamat kepada kalian yang telah berhasil menyelesaikan petualangan ini. Kalian adalah orang-orang hebat,” ucap Nurma. “Hmm.. Aku sangat lapar, adakah disini yang ingin membelikanku nasi goreng?” tanya Nurma kepada orang-orang di tribun.
“Aku, kak!” kataku yang juga menginginkan nasi goreng. “Pakai uangku dulu saja. Aku keluar dulu, ya!” kataku sambil kemudian menjauhi tribun dan menuju ke warung dekat situ.
“Bu, aku ingin nasi goreng ini. Harganya berapa?” ucapku kepada penjual di warung tersebut.
“Empat puluh ribu saja, Dik! Mau beli berapa?” tanyanya kepadaku.
“Hah? Empat puluh ribu, gak salah!?” gumamku dalam hati. “Mm.. Satu saja, Bu! Ini uangnya,” ucapku sambal memberikan uang dari kantongku yang hanya ada selembar uang lima puluh ribu.
Aku menerima nasi goreng yang berporsi besar tersebut, dan bersiap memberikan kepada Nurma. Walau saja air liurku tak bisa berhenti mengalir saat memandangi porsi nasi itu.
Namun saat aku ingin kembali ke tribun, ruangan tersebut berubah menjadi masjid megah. Wajahku melongoh heran. Ku letakkan porsi nasi itu di bawah, dan kuambil gulungan kertas yang bertuliskan “Selamat! Kamu adalah pemenang petualangan kali ini. Terimakasih atas partisipasinya.”
Agak aneh, memang. Saat diriku tersadar dari mimpiku, aku pun menyadari.

“Lantas saja mimpiku aneh seperti itu. Acara televisi yang aku setel selama aku tidur ternyata bertemakan religi. Namun yang aku tidak mengerti, apa maksud ‘Nurma’ di mimpiku?” gumamku penuh tandatanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar