Petualangan Alam
Mimpi
Oleh : Amira R.
Kantukku
mulai datang. Kubaringkan tubuhku di sofa depan televisi, dengan harap kantuk
itu hilang. Hingga tanpa kusadari, jiwaku telah bersiap berpetualang di alam
mimpi.
Kala itu
aku berada di antara kerumunan orang yang murung. Tanpa ragu, aku dan yang
lainnya langsung menuju tribun yang melingkar di sekitar kami.
“Sepertinya pertunjukkan sudah hampir mulai,” gumamku sambal bergegas ke
tribun.
Di hadapanku tampak
beberapa sosok berjubah hitam. Mereka terlihat sedang berbincang dan bersiap
memulai acara dalam ruang remang-remang itu.
“Tes.. tes.. 1.. 2…
Ya, saya disini akan memandu kalian pada petualangan kali ini,” kata salah satu
sosok itu, yang bisa dipanggil Nurma.
“… Segeralah kalian
menuju tepi sungai di depan tribun kalian. Dan berpegangan eratlah dengan teman
di dekatmu jika kamu tidak ingin berpetualang sendirian,” jelasnya di akhir
penjelasannya.
Setelah itu, aku
dan orang-orang di tribun menuju ke tepi sebuah sungai yang terisi aliran pasir
putih. aku, yang takut akan sendirian, secara refleks menggenggam erat tangan dua orang di sebelahku saat
itu.
Benar saja, tak lama kemudian, pasir
tersebut mulai meluas dan berubah wujud menjadi dataran bumi. Kerumunan orang
tadi, kini terpisah di seluruh penjuru. Di dekatku kini hanya ada dua orang
tadi, yang ternyata mereka adalah Resti dan Nisah, teman dekatku.
Kami memulai perjalanan bersama. Oh ya,
Nurma juga menugaskan kami untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya hingga
tiba di pintu akhir petualangan. Di awal perjalanan, kami ditemukan dengan
sebuah gulungan kertas yang bertuliskan “Lakukanlah kebaikan, maka poinmu akan
bertambah.”
Tak sedikit rintangan mental yang harus
kami lewati demi mendapatkan poin. Berbagai jalan setapak berliku dan jalanan
bukit yang curam dengan mudahnya kami lewati, tidak seperti di dunia nyata.
Perjalanan kami semakin jauh, hingga kami merasa lapar di saat-saat yang tidak
memadai, dimana saat kami sedang di tengah danau.
“Aku kayaknya
menyerah saja, deh, sudah capek! Kalian lanjut saja, tidak usah memikirkanku,” ucap Resti dengan
putus asa kepadaku dan Nisah. Kami berpelukan, dan kemudian Resti melompat dari
sampan yang kami naiki.
“Kamu masih mau melanjutkan petualangan ini, ‘kan? Ayo, lah! Temani aku,”
mohonku kepada Nisah.
“Iya, deh,” balas Nisah dengan sedikit terpaksa.
Beberapa waktu kemudian, kami dilanda
masalah lagi. Kami merasa sangat haus kala itu, karena kami merasa berjalan di
atas awan dan jauh dari bumi.
“Mir, kurasa aku harus mengakhiri
petualanganku kali ini. Aku merasa sudah tidak kuat lagi,” keluh Nisah.
“Yah..
Kamu yakin? Kita ‘kan sudah hampir tiba di akhir petualangan, lho!” bujukku kepada Nisah.
“Iya, memang. Tetapi aku tidak yakin
bisa menyelesaikan petualangan ini. Biarkan saja aku menyerah kali ini, kamu
lanjutkan saja tujuanmu,” jelas Nisah. Nisah pun akhirnya mengakhiri
petualangan ini dengan menaiki kuda Pegasus yang beterbangan di sekitar kami.
Aku juga merasakan hal sama seperti yang
dirasakan Resti dan Nisah, bahkan aku merasa ingin pingsan seketika. Namun rasa
putus asa ku mulai berkurang, setelah mengetahui bahwa aku hampir tiba di akhir
petualangan ini.
Pada akhirnya, aku dapat tiba di akhir
perjalanan ini, dan kembali ke tribun dengan selamat, namun tidak dengan
teman-temanku. Aku merasakan bahagia yang luar biasa saat mengetahui bahwa aku
adalah salah seorang yang dapat dengan cepat menyelesaikan petualangan ini.
Di tribun, aku menjumpai seorang teman
dekatku juga, namun bukanlah Resti ataupun Nisah, ia adalah Shabri. Namun
disitu, Shabri seperti tidak mengenaliku. Hal ini sedikit mengurangi
kebahagiaanku.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar
kembali suara Nurma. Nurma tidak muncul sebagai sosok berjubah lagi, melainkan
sebagai lelaki muda yang keren.
“Selamat kepada kalian yang telah
berhasil menyelesaikan petualangan ini. Kalian adalah orang-orang hebat,” ucap
Nurma. “Hmm.. Aku sangat lapar, adakah disini yang ingin membelikanku nasi
goreng?” tanya Nurma kepada orang-orang di tribun.
“Aku, kak!” kataku yang juga
menginginkan nasi goreng. “Pakai uangku dulu saja. Aku keluar dulu, ya!” kataku
sambil kemudian menjauhi tribun dan menuju ke warung dekat situ.
“Bu, aku ingin nasi goreng ini. Harganya
berapa?” ucapku kepada penjual di warung tersebut.
“Empat puluh ribu saja, Dik! Mau beli
berapa?” tanyanya kepadaku.
“Hah? Empat puluh ribu, gak salah!?” gumamku dalam hati. “Mm..
Satu saja, Bu! Ini uangnya,” ucapku sambal memberikan uang dari kantongku yang
hanya ada selembar uang lima puluh ribu.
Aku menerima nasi goreng yang berporsi
besar tersebut, dan bersiap memberikan kepada Nurma. Walau saja air liurku tak
bisa berhenti mengalir saat memandangi porsi nasi itu.
Namun saat aku ingin kembali ke tribun,
ruangan tersebut berubah menjadi masjid megah. Wajahku melongoh heran. Ku
letakkan porsi nasi itu di bawah, dan kuambil gulungan kertas yang bertuliskan
“Selamat! Kamu adalah pemenang petualangan kali ini. Terimakasih atas
partisipasinya.”
Agak
aneh, memang. Saat diriku tersadar dari mimpiku, aku pun menyadari.
“Lantas saja mimpiku aneh seperti itu. Acara televisi yang
aku setel selama aku tidur ternyata bertemakan religi. Namun yang aku tidak
mengerti, apa maksud ‘Nurma’ di mimpiku?” gumamku penuh tandatanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar