Kamis, 12 Maret 2015

Analisis Novel 30-an: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck



 

Judul                : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Penulis              : Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka

Penerbit            : Pedoman Masjarakat, 1938

Angkatan          : tahun 30-an

Tema                : perjuangan cinta

Latar                : 
-         Waktu            : pagi, sore, malam, 19 Oktober 1936
-         Tempat           : Mengkasar, Padang Panjang, Surabaya, Lamongan 
-         Suasana          : mengharukan

Penokohan       :          
-         Zainuddin        : baik hati, lemah lembut, rendah hati, dermawan
-         Hayati             : penurut, baik hati, lemah lembut
-         Aziz                : licik, sombong, pemarah
-         Muluk              : baik hati
-         Khadijah         : penghasut, sombong, suka menghina orang lain

Alur                  : campuran

Gaya bahasa     : Bahasa Indonesia, Melayu

Sinopsis            : 
Zainuddin kembali ke tanah kelahiran ayahnya di Minangkabau, setelah meninggalkan orang tua angkatnya, Mak Base. Hal itu membuatnya dihina oleh warga dusun Batipuh karena ia memiliki dua adat, adat Minangkabau dan adat Mengkasar.
Setelah itu, Zainuddin bertemu dengan kembang dusun Batipuh, yaitu Hayati. Zainuddin jatuh cinta kepada Hayati, lalu mereka menjalin hubungan diam-diam karena tidak disetujui oleh keluarga Hayati. Hingga akhirnya warga dusun Batipuh mengetahui bahwa Hayati memiliki kekasih yang tidak jelas asal usul adatnya. Zainuddin pun diusir oleh ketua adat dusun Batipuh, dan pergi ke Padang Panjang.
Disana ia bertemu dengan Muluk yang akhirnya menjadi sahabatnya. Kisah cinta Zainuddin kembali terhalangi oleh teman Hayati, yaitu Khadijah. Khadijah menghasut Hayati untuk menikahi kakaknya yang kaya raya, Aziz, walaupun ia tidak suka dengan lelaki yang ternyata kasar itu. Hayati selalu dibuat sakit hati oleh kelakuan Aziz. Zainuddin sangat kaget saat mendapat kabar bahwa Hayati sudah dimiliki oleh laki-laki lain. Muluk menasihati Zainuddin agar tidak menyerah dan meminta Zainuddin untuk berkarya dengan syairnya. Mereka pergi ke Batavia untuk menerbitkan syair milik Zainuddin di surat kabar. Surat kabar itu kemudian membuat Zainuddin menjadi terkenal. Zainuddin mendapat banyak tawaran.
Sementara itu, Aziz dimutasi ke Surabaya dan dibawanya Hayati. Hidup Hayati sangatlah tersiksa oleh perlakuan Aziz. Suatu hari, rumah mereka disita karena hutang-hutang Aziz. Ia juga dipecat oleh kantornya. Aziz pun memilih untuk  menemui Zainuddin dan meminta agar ia diperbolehkan menginap di rumahnya. Beberapa bulan setelah Aziz pergi dari rumah Zainuddin, ia mendapat kabar bahwa Aziz meninggal karena bunuh diri. Sebelumnya, Aziz yang merasa sudah banyak merepotkan Zainuddin memintanya untuk menikahi Hayati. Namun Zainuddin pun menolak permintaannya.
Zainuddin menyuruh Hayati untuk pulang ke dusun Batipuh dengan menaiki kapal Van Der Wijck. Hayati pun menuju Pelabuhan Tanjoeng Periuk dengan diantar oleh Muluk. Ia memberitahu tentang isi hati sahabatnya, Zainuddin. Hayati sangat menyesali perbuatannya, dan menitipkannya sepucuk surat untuk Zainuddin.
Suatu hari, Zainuddin mendapat kabar bahwa kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam. Ia pun bergegas untuk menuju ke pelabuhan. Sebelum Zainuddin menuju pelabuhan,  Muluk yang baru mengantarkan Hayati sampai rumah langsung menyampaikan surat Hayati ke Zainuddin. Zainuddin dan Muluk pun menuju ke Lamongan, tempat korban Kapal Van Der Wicjk dievakuasi. Ia langsung mencari Hayati, dan akhirnya ia ditemukan. 
Tak lama Zainuddin dan Hayati bercakap-cakap, Hayati menembuhkan nafas terakhirnya. Zainuddin pun terkejut dan menangis histeris. Ia menguburkan Hayati di kebun belakang rumah Zainuddin. Ia selalu mengunjungi makam Hayati dan tidak memikirkan pekerjaannya.

Setahun kemudian, syair yang ditulis Zainuddin tidak lagi muncul di surat kabar, tapi berita bahwa Zainuddin telah wafat beredar luas. Sejak saat Hayati meninggal, Zainuddin jatuh sakit. Ia meninggalkan surat wasiat untuk sahabatnya, yaitu Muluk, yang selalu ada untuk dia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar