Judul : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penulis : Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka
Angkatan : tahun 30-an
Tema : perjuangan cinta
Latar :
-
Waktu
: pagi, sore, malam, 19 Oktober
1936
-
Tempat
: Mengkasar, Padang Panjang,
Surabaya, Lamongan
-
Suasana
: mengharukan
Penokohan :
-
Zainuddin : baik hati, lemah lembut, rendah hati,
dermawan
-
Hayati : penurut, baik hati, lemah lembut
-
Aziz : licik, sombong, pemarah
-
Muluk : baik hati
-
Khadijah : penghasut, sombong, suka menghina
orang lain
Alur : campuran
Gaya bahasa : Bahasa Indonesia, Melayu
Sinopsis :
Zainuddin
kembali ke tanah kelahiran ayahnya di Minangkabau, setelah meninggalkan orang
tua angkatnya, Mak Base. Hal itu membuatnya dihina oleh warga dusun Batipuh
karena ia memiliki dua adat, adat Minangkabau dan adat Mengkasar.
Setelah
itu, Zainuddin bertemu dengan kembang dusun Batipuh, yaitu Hayati. Zainuddin
jatuh cinta kepada Hayati, lalu mereka menjalin hubungan diam-diam karena tidak
disetujui oleh keluarga Hayati. Hingga akhirnya warga dusun Batipuh mengetahui
bahwa Hayati memiliki kekasih yang tidak jelas asal usul adatnya. Zainuddin pun
diusir oleh ketua adat dusun Batipuh, dan pergi ke Padang Panjang.
Disana
ia bertemu dengan Muluk yang akhirnya menjadi sahabatnya. Kisah cinta Zainuddin
kembali terhalangi oleh teman Hayati, yaitu Khadijah. Khadijah menghasut Hayati
untuk menikahi kakaknya yang kaya raya, Aziz, walaupun ia tidak suka dengan
lelaki yang ternyata kasar itu. Hayati selalu dibuat sakit hati oleh kelakuan
Aziz. Zainuddin sangat kaget saat mendapat kabar bahwa Hayati sudah dimiliki
oleh laki-laki lain. Muluk menasihati Zainuddin agar tidak menyerah dan meminta
Zainuddin untuk berkarya dengan syairnya. Mereka pergi ke Batavia untuk
menerbitkan syair milik Zainuddin di surat kabar. Surat kabar itu kemudian
membuat Zainuddin menjadi terkenal. Zainuddin mendapat banyak tawaran.
Sementara
itu, Aziz dimutasi ke Surabaya dan dibawanya Hayati. Hidup Hayati sangatlah
tersiksa oleh perlakuan Aziz. Suatu hari, rumah mereka disita karena
hutang-hutang Aziz. Ia juga dipecat oleh kantornya. Aziz pun memilih untuk menemui Zainuddin dan meminta agar ia
diperbolehkan menginap di rumahnya. Beberapa bulan setelah Aziz pergi dari
rumah Zainuddin, ia mendapat kabar bahwa Aziz meninggal karena bunuh diri.
Sebelumnya, Aziz yang merasa sudah banyak merepotkan Zainuddin memintanya untuk
menikahi Hayati. Namun Zainuddin pun menolak permintaannya.
Zainuddin
menyuruh Hayati untuk pulang ke dusun Batipuh dengan menaiki kapal Van Der
Wijck. Hayati pun menuju Pelabuhan Tanjoeng Periuk dengan diantar oleh Muluk.
Ia memberitahu tentang isi hati sahabatnya, Zainuddin. Hayati sangat menyesali
perbuatannya, dan menitipkannya sepucuk surat untuk Zainuddin.
Suatu
hari, Zainuddin mendapat kabar bahwa kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam. Ia
pun bergegas untuk menuju ke pelabuhan. Sebelum Zainuddin menuju
pelabuhan, Muluk yang baru mengantarkan
Hayati sampai rumah langsung menyampaikan surat Hayati ke Zainuddin. Zainuddin
dan Muluk pun menuju ke Lamongan, tempat korban Kapal Van Der Wicjk dievakuasi.
Ia langsung mencari Hayati, dan akhirnya ia ditemukan.
Tak
lama Zainuddin dan Hayati bercakap-cakap, Hayati menembuhkan nafas terakhirnya.
Zainuddin pun terkejut dan menangis histeris. Ia menguburkan Hayati di kebun
belakang rumah Zainuddin. Ia selalu mengunjungi makam Hayati dan tidak
memikirkan pekerjaannya.
Setahun
kemudian, syair yang ditulis Zainuddin tidak lagi muncul di surat kabar, tapi
berita bahwa Zainuddin telah wafat beredar luas. Sejak saat Hayati meninggal,
Zainuddin jatuh sakit. Ia meninggalkan surat wasiat untuk sahabatnya, yaitu
Muluk, yang selalu ada untuk dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar